Wednesday, August 29, 2007

Jam Cina Jadoel

Nama-nama waktu-waktu Cina jaman doeloe adalah,
  • hay-sie (jam 21.00 s/d 23.00 malam)
  • tjhoe-sie (jam 23.00 s/d 01.00 tengah malam)
  • thio-sie (jam 01.00 s/d 03.00 dinihari)
  • in-sie (jam 03.00 s/d 05.00 subuh)
  • bauw-sie (jam 05.00 s/d 07.00 fajar)
  • sin-sie (jam 07.00 s/d 09.00 pagi)
  • sie-sie (jam 09.00 s/d 11.00 pagi)
  • ngo-sie (jam 11.00 s/d 13.00 tengah hari)
  • bie-sie (jam 13.00 s/d 15.00 siang)
  • sien-sie (jam 15.00 s/d 17.00 sore)
  • yoe-sie (jam 17.00 s/d 19.00 magrib)
Kentongan adalah bunyi gembreng yang dibawa bersama dengan tangloleng oleh para tjhungteng ketika berkeliling meronda. Pada ronda malam, mereka hanya membunyikan kentongan tiga kali, yaitu yang pertama pada magrib (soet-sie) ketika mulai meronda, lalu yang kedua pada tengah malam (tjhoe-sie), dan ketiga waktu subuh (in-sie) ketika mengakhiri ronda.

Dikutip dari tulisan
Akhmad Bukhari Saleh di milis http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua

Saturday, August 18, 2007

Portable Film Festival

The Portable Film Festival is an international festival of short film and user created content. It works in the same way as other film festivals the only difference - it's delivered completely online and distributed through portable video devices such as iPods, mobile phones and laptops. As such, we promote the free movement of content from digital and analogue spaces to offline.

As a cultural movement, the Portable Film Festival represents the growing democratization of filmmaking and viewing processes around the world. Today anyone can be a filmmaker or a film critic regardless of their background. They just need a fancy mobile phone or a broadband connection and the rest is in their hands.

Everything in our programme is curated, free and portable thanks to our loyal community of film and mediamakers who submit their work to us from around the world. If you missed out this year, send us an email and look out for our next call for entries period, beginning March 1 2008.


Thursday, August 16, 2007

Lomba Poster Helvetica


Mungkin ada yang tertarik?
Loba poster bergengsi nih, tampaknya...
link ke http://www.linotype.com/ helveticaNOW

Wednesday, August 15, 2007

Koleksi Antyo Rentjoko di Untar




Antyo Rentjoko, dulu seorang pekerja di media besar. Sejak 1980-an ia mempunyai kegemaran mengumpulkan berbagai ragam kemasan yang memiliki visual menarik. Menurutnya, masing-masing kemasan memunculkan berbagai cerita lucu dan menarik...

baca-baca yang ringan, lucu, dan bermanfaat yang ditulis sesempatnya di www.blogombal.org

Kurang lebih 500 kemasan telah ia kumpulkan hasil dari jalan-jalan saat musim liburan atau pada saat tugas dari pekerjaannya. Saat ini, sudah ada lebih dari 200 kemasan di antaranya, berada di Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Tarumanegara. Diharapkan koleksi Paman Tyo dapat menjadi awal pembuatan wadah data elemen grafis indonesia.

Thx Paman Tyo!




Si Adit, teman yang juga pengajar di DKV Untar, mengirimkan foto-foto ini. Foto yang diambil di sekitar Jalan Pintu Air, Jakarta. Gedung-gedung tua itu seperti menunggu untuk 'energi' baru. Temanku itu memimpikan adanya sebuah museum grafis yang akan menempatinya...

Sunday, August 12, 2007

One Laptop Per Child

Seandainya pemerintah negeri ini lebih 'mudeng' soal arti kemudahan bagi anak...
link ke www.laptop.org

Monitoring Evaluasi

Monitoring evaluation itu dilakukan ketika program sudah betul-betul established dan berjalan. Sebelum melakukan monitoring evaluation, menurut Owen (2006) ada beberapa evaluasi yang sebenarnya perlu dilakukan, yaitu:

1. Proactive evaluation, evaluasi tahap awal, yaitu membantu para pengambil keputusan mengenai tipe program yang diinginkan (how best to develop a program). Dalam hal ini adalah para pimpinan perusahaan.
2. Clarificative evaluation, evaluasi sebelum program dijalankan, yaitu mengevaluasi outcome yang diinginkan. Ini berbentuk program logic dan bisa didiskusikan dengan pimpinan perusahaan atau orang yang incharge dalam hal ini.
3. Interactive evaluation, yaitu evaluasi pada saat program baru diluncurkan. Is the delivery working?
4. Monitoring evaluation, evaluasi ketika program telah establish dan berjalan.
5. Impact evaluation, untuk melihat impact program terhadap target populasi - do they make a difference?

Untuk mengembangkan sistem monitoring evaluation sendiri, beberapa pertanyaan ini mungkin bisa membantu:

1. Is the program reaching the target population?
2. To what extent is the program in line with best practice?
3. Does the program implementation consistent with the objectives of the program?
4. How does the decision-making process affecting the effectiveness of program delivery?
5. To what extent the program will benefit participants?
6. To what extent the quality of the peer educator modules will improve knowledge of participants?
7. How can each company fine-tune the program to make it more effective and efficient?
8. Is there any process of delivery that needs more attention to ensure the effectiveness of the program?
9. Does the costs affect the implementation of the program activities?

Yang terpenting sebenarnya adalah kesinambungan program tersebut di perusahaan masing-masing, artinya jangan sampai hanya HIT and RUN.

Referensi: Owen, J. M., (2006). Program Evaluation: Forms and Approaches (3rd ed). Sydney: Allen and Unwin.

disadur dari posting milis aids-ina@yahoogroups.com oleh Dwie

Artist in Residence Program

Administrated by Kyoto Art Center “ Artist-in-Residence” is a program to support artists and art researchers who wish to work in Kyoto. The program provides a three-month accommodation and a studio to work in. Twenty six groups of artists have joined this program since 2000, the year Kyoto Art Center established. They have developed a communication with the people of Kyoto and have created works here in Kyoto.

Kyoto Art Center wishes to spread knowledge of the program in order to provide a wider range of people, artists with the opportunity to communicate and create work in Kyoto.

The application form can be downloaded from URL
http://www.kac. or.jp/
Formulir juga dapat diperoleh di kantor JF, Jakarta.
Summitmas I lt. 3
Jl. Jend. Sudirman kav.61-62
Jakarta Selatan

Pameran Biennale Jogja IX -2007

Akan dibuka pada hari Jum'at, 28 Desember
2007 jam 19.00 WIB
di Taman Budaya Yogyakarta, jalan Sriwedani 1 Yogyakarta.

Pameran akan dilangsungkan di 3 (tiga) tempat;
di Taman Budaya Yogyakarta/TBY (Jl. Sriwedani 1 Yogyakarta),
Jogja National Museum (Jl. Amri Yahya 1 Yogyakarta), dan
Sangkring Art Space (Jl. Nitiprayan 88, RT 01 RW 20, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul,Yogyakarta)

NEO-NATION
(Bingkai Kuratorial Jogja Biennale IX – 2007)
Tiba saatnya Jogja Biennale IX-2007. Kali ini menyodorkan tema kuratorial yang berbasis pada ‘realitas seni visual yang ada dan tengah terjadi’, terutama dalam konteks fenomena sosial budaya yang melatarinya. Tema ini dihasratkan dapat dijadikan piranti untuk merespon fenomena sosial budaya yang terkait dengan perihal ‘identitas’. Perbincangan mengenai identitas ini dikaitkan dengan fenomena yang menggejala antar-inter generasi. Artikulasi ‘identitas’ dalam masyarakat kontemporer Indonesia , merupakan sesuatu yang kompleks dan problematis. Identitas bukanlah entitas yang memiliki kandungan esensial. Oleh karena itu, pembicaraan tentang ‘identitas’ dalam gagasan ini, akan memfokuskan diri pada pembacaan tentang bagaimana individu atau kolektif mengontestasikan pelbagai teks (seni visual, misalnya) untuk mengartikulasikan pengalaman atas identitas dirinya dalam konteks negara-bangsa (nation-state) Indonesia. Situasi hari ini menunjukkan bahwa globalisasi menyediakan sebuah tempat yang lapang bagi konstruksi identitas; pertukaran benda-benda/ simbol-simbol dan pergerakan antartempat yang semakin mudah, yang dikombinasikan dengan perkembangan teknologi komunikasi, membuat percampuran dan pertemuan kebudayaan juga semakin mudah. Dalam globalisasi, kebudayaan dan identitas bersifat translokal (Pieterse, 1995). Maka, pertanyaan dan persoalan kita kini adalah, “bagaimana kita mengalami keindonesiaan kita pada hari ini?”

Fenomena sosial budaya yang terjadi kini adalah pada gejala hibriditas budaya yang terjadi diberbagai sektor kehidupan. Mengalami keindonesiaan sebagai entitas negara-bangsa (nation-state) bagi generasi, misalnya, angkatan ’28, ’45, ’70, hingga generasi ’80, ‘90-an akan sama sekali berbeda. Asumsinya, setiap generasi melahirkan pengalaman dan langgam bahasanya sendiri, yang terkait dengan ingatan kolektif pada masanya.

Jarak beberapa decade waktu yang memisahkan, meninggalkan warisan ingatan yang khas. Peristiwa ‘kecil’ berikut ini dapat dijadikan ilustrasi; sebuah acara talk-show di stasiun TV swasta, Kick Andi (di suatu hari sekitar Mei 2007 lalu), menghadirkan nara sumber para veteran perang (’45) dengan sejumlah orang muda (’80-90an), tampak adanya perbedaan persepsi mengenai nasionalisme. Sejumlah (kaum) veteran beranggapan, bahwa kaum muda sekarang tidak lagi peduli pada sejarah. Namun realitas faktualnya kaum muda juga telah membangun historisitasnya dengan cara-caranya sendiri. Kontribusi kaum muda – dalam beberapa hal – menjadi fakta historis, yang memberi andil penting dalam membentuk citra Indonesia kontemporer. Kini terpampang jelas di sekitar kita, fenomena generasi era ’70, ’80, ’90-an, yang terlihat pada kultur anak muda (youth culture), dimana ada gejala kian berkembangnya kultur dan kelas kreatif yang tercermin pada beragam subkultur. Apa yang dipraktikkan kultur anak muda ini menunjukkan sebuah pengalaman mengalami suatu ‘keindonesiaan’ dengan cara yang ‘baru’. Suatu pengalaman ‘mengalami keindonesiaan’ bukan sekadar monopoli kultur anak muda, namun juga dirasakan oleh berbagai indvidu yang menjalani (terperangkap) mobilitas ulang-alik, keluar/dalam teritorial Indonesia. Ketika muncul realitas maya (cyberspace), ketika konsep waktu, jarak dan tempat menjadi lain sama sekali, maka seolah-olah batas-batas territorial semakin memudar. Fakta berikutnya menunjukkan, bahwa jumlah penghuni ruang sibernetik kian meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa identitas tidak lagi mencukupi jika dipahami hanya sebatas term tempat, tetapi juga pada term perjalanan.

“Mengalami keindonesiaan dengan cara pandang dan cara berpikir baru” merupakan point dan realitas yang penting, yang mendorong munculnya tajuk Kuratorial Jogja Biennale IX-2007 dengan nama: NEO-NATION. Cara pandang dan cara berpikir baru yang dimaksud adalah berkait erat dengan problem dan pergeseran situasi sosial budaya yang melingkupi keseharian kita kini. Maka Jogja Biennale kali ini berpeluang menghadirkan pengalaman Anda dalam memahami, memandang, dan menghayati relasi diri kita dengan ihwal proses menjadi bangsa “Indonesia ”.

Yogyakarta,
Juli-Agustus 2007
Kurator Jogja Biennale IX-2007:
Sujud Dartanto
Kuss Indarto
Suwarno Wisetrotomo
Eko Prawoto

Sekretariat Panitia Bienalle Jogja IX-2007
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sriwedani no.1 Yogyakarta
Contact Person: Deska
Telepon: (0274) 3250622, (0274) 561914
e-mail: biennalejogja@ yahoo.com, biennalejogja2007@ gmail.com
blog: biennalejogja2007.multiply.com

Saturday, August 11, 2007

Jejak Kapal Laksamana Cheng Ho Diabadikan di Kali Semarang

Naga-Burung Hong di Buritan Jadi Simbol Damai Semarang memperkuat citra sebagai salah satu kota di Asia Tenggara yang jadi ikon 'wisata ziarah' perjalanan Laksamana Cheng Ho. Tiap tahun, peringatan pendaratan pelaut legendaris itu dirayakan meriah. Bulan depan, kota ini akan meresmikan replika kapal orang kepercayaan Kaisar Tiongkok tersebut yang dibuat seperti keberadaannya 600 tahun lalu.

Sebuah kapal unik terlihat bersandar di tengah Kali Semarang. Tepatnya di depan Kelenteng Tay Kak Sie di jalan Gang Lombok. Melihat bentuknya, kapal dengan panjang 41 meter, lebar 12 meter, dan tinggi 3 meter itu memang berbeda dengan yang ada sekarang. Maklum, 'perahu raksasa¡¦ itu dibuat sebagai replika kendaraan laut era Dinasti Ming. Dengan alat itulah, Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok menjelajahi dunia sekitar 600 tahun silam. Bangunan itu sesungguhnya merupakan sebuah panggung yang dibangun menyerupai bentuk kapal. Pada zamannya, ia disebut Bao Chuan atau bahtera pusaka. Enam abad yang lalu, kapal tersebut biasanya digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka untuk cinderamata bagi pemimpin yang dikunjungi rombongan Cheng Ho. Replika itu dibuat dari bahan utama besi dan beton yang dilapisi kayu bengkirai sehingga benar-benar mirip kapal sesungguhnya.

Dua tahun lalu, di tempat yang sama, sebenarnya juga pernah dibangun replika serupa, namun terbuat dari bambu dan kayu. Replika yang pertama tersebut digunakan sebagai panggung utama dalam peringatan 600 tahun pendaratan Cheng Ho di Nusantara pada tahun 2005. Selanjutnya, replika itu juga digunakan sebagai panggung pementasan berbagai kegiatan kesenian hingga tasyakuran peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie memutuskan untuk membuat replika kapal yang permanen. Sindu Dharmali, ketua Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie, menjelaskan bahwa pembangunan panggung berupa replika kapal itu bukan sekedar monumen kedatangan penanda Cheng Ho ke kota Semarang. Namun juga menjadi simbol perdamaian dalam menjalin hidup bersama. Layaknya pesan dari gambar naga dan burung hong di buritan kapal Bao Chuan yang menyimbolkan kejayaan dan perdamaian.

"Replika kapal ini kami bangun dengan dana swadaya masyarakat yang diinspirasi jiwa besar Laksamana Cheng Ho yang penuh cinta kasih." Kata Sindu Dharmali. Pembuatan replika itu diperkirakan menghabiskan dana Rp.1,5 miliar yang dikumpulkan dari para donator yang peduli terhadap pembangunan tersebut. Bahkan, panitia pembangunan Cheng Ho ship, nama kepanitiaan dari Kelenteng Tay Kak Sie, juga membuka rekening sumbangan di bank swasta. "Kami berterima kasih kepada masyarakat yang sudah menyumbangkan dananya," katanya. Menurut Sindu, replika itu memang dibuat lebih 'mini' daripada aslinya. Sebab kapal yang dipakai berlayar oleh tangan kanan Kaisar Tiongkok tersebut aslinya memiliki panjang 122 meter dan lebar 52 meter. "Itu kapal raksasa di zamannya. Bandingkan dengan kapal Santa Maria milik Colombus saat menemukan Amerika yang panjangnya diduga hanya 26 meter."

Lalu, siapa yang merancang replika kapal itu? Para pengurus yayasan kelenteng umumnya menyebut nama Ganda Wijaya sebagai arsiteknya. Namun, kepada Radar Semarang (Grup Jawa Pos), Ganda menolak dikatakan sebagai arsiteknya. "Saya hanya membantu teman-teman di yayasan. Kebetulan saya tahu tentang teknik," ujarnya merendah. Untuk membuat kapal tersebut, Ganda mengaku butuh waktu empat bulan. Namun dia berjanji akan mempercepat proses penyelesaian proyek itu. Konstruksi kapal yang dibuat dengan lapisan baja dan besi tersebut didesain bisa bertahan hingga 10 tahun. Agar persis aslinya, replika kapal itu akan dipercantik dengan kayu bengkirai yang sudah dipoles.

Pembuatan replika tersebut memang membutuhkan waktu lumayan lama. Namun waktu yang diperlukan untuk mencari bentuk yang paling tepat tentang kapal Cheng Ho yang asli ternyata lebih lama lagi. Sejak 2004, Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie telah mengumpulkan berbagai referensi untuk mencari bentuk kapal Cheng Ho yang asli. Langkah ini dilakukan untuk peringatan 600 tahun pendaratan Cheng Ho di Semarang pada tahun 2005. Berbagai buku tentang Tiongkok ditelusuri, namun belum ada yang pas.

Cheng Ho dikenal sebagai pelaut yang ulung. Namanya hingga kini tenar di kawasan Asia Tenggara. Dia melepas armada Tiongkok ke seluruh penjuru dunia. Dalam ekspedisi pertama (1407-1409) dari Nanjing menuju Calicut (India), Cheng Ho singgah di Champa, Semarang, Sriwijaya, dan Srilanka. Berikutnya (1409-1411), Cheng Ho kembali mengunjungi Champa, Temasek (Singapura), Malaka, Sumatera Timur, Aceh, dan Srilanka. Ekspedisi terakhir Cheng Ho dilakukan pada 1431-1433. Kali ini mereka menuju Selatan Vietnam, Surabaya, Palembang, Malaka, Samudra Pasai, Srilanka, Calicut (India), Afrika, dan Jeddah.

Pada tahun 2004 dan 2005, Ganda berkunjung ke Tiongkok. Kesempatan itu tidak disia-siakan untuk berkunjung ke kampung halaman Cheng Ho. Dia terus menggali referensi serta mendokumentasikan berbagai hal terkait dengan tokoh yang lahir di Kunyang, kota kecil di Barat daya provinsi Yunnan tersebut. Pada saat berada di perpustakaan Universitas Jian Tong, Shanghai, Ganda menemukan sebuah buku yang menggambarkan replika-replika kapal yang dicari. Replika yang sama juga didapatinya di Museum Maritim Nanjing. Selain itu, dia memanfaatkan kemajuan teknologi dalam pencariannya. "Saya juga mencari bentuk kapal Cheng Ho dari internet," jelasnya. Hasil penelusurannya tersebut akhirnya dijadikan bahan acuan untuk membuat replika semipermanen di Kali Semarang pada tahun 2005.

Pembuatan replika itu kini sudah mencapai 90 persen. Saat Radar Semarang berkunjung kesana kemarin, sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pembuatan ruangan di bagian haluan kapal. Ruangan itu akan digunakan untuk ganti pakaian bagi artis saat akan tampil di panggung yang berada di dek kapal. Ruangan tersebut juga dilengkapi toilet. Selain ruangan di bagian haluan, sejumlah pekerja sibuk memasang layar pada dua tiang layar utama. Menurut Ganda, layar bagian depan berukuran 8 x 8 meter dan layar bagian belakang 8 x 9 meter. Keberadaan panggung permanen di tengah sungai yang membelah kota Semarang itu mengundang polemik warga kota. Yang menentang khawatir proyek tersebut akan mengganggu aliran sungai. Seperti, kemungkinan adanya sampah-sampah yang tersangkut di bagian konstruksi yang terendam air. Sebab kapal itu memakan tempat hingga tiga perempat lebar Kali Semarang. Ganda menjelaskan, pembuatan kapal di tengah Kali Semarang sudah dikaji secara mendalam dari aspek lingkungan. Konstruksi kapal sudah dibuat sedemikian rupa. "Anjungan dan buritan bisa ditarik saat air pasang dan diturunkan saat air surut sehingga tak mengganggu aliran Kali Semarang" tuturnya. Proyek itu, lanjut Garuda, ditargetkan selesai pada awal bulan depan.

Dengan demikian kapal tersebut bisa digunakan sebagai panggung kesenian dalam perhelatan Semarang Pesona Asia (SPA) pada tgl. 10 Agustus 2007 dan peringatan pendaratan Cheng Ho di Semarang pada tgl. 12 Agustus 2007. Panggung replika kapal Cheng Ho itu akan menjadi ikon kawasan pecinan ibu kota Jawa Tengah dalam even SPA.

Dikutip dari: harian Jawa Pos terbitan Surabaya, tgl 25 Juli 2007

ada lomba menarik

menarik sekali cara orang berkarya... dua website berikut adalah beberapa contoh...

www.dontpaniconline.com
www.cutandpaste07.com

check them out!

Wednesday, August 08, 2007

Dua buah bulan dalam 2287 tahun sekali


dari "Liquid Yahoo" liquidha@yahoo.co.id

Malam hari dengan dua buah bulan. Jangan sampai terlewatkan kesempatan langka yang hanya terjadi dalam 2280 tahun sekali saja!!!

Seluruh dunia menantikan planet Bumi kita mempunyai dua buah bulan pada 27 Agustus 2007 nanti. Planet Mars akan terlihat sangat terang di langit mulai awal Agustus.

Planet Mars akan terlihat sebesar bulan planet Bumi kita dengan mata telanjang saja. Dan puncaknya akan terlihat seperti bulan purnama (full moon) pada tanggal 27 Agustus jam 00.30 malam senin pagi dini hari, saat jarak Mars dengan Bumi kita hanya sekitar 34.65M miles.

Jangan sampai terlewatkan untuk 'menatap' langit yang akan seperti memiliki dua buah bulan, karena jarak terdekat seperti itu hanya akan terjadi lagi di tahun 2287 yang akan datang.

Share this with your friends as NO ONE ALIVE TODAY will ever see it again.

Tahun 2040: 2.000 pulau tenggelam

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan.

"Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 - 0,30 C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah men geri kan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah -daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi - termasuk laut di seputar Indonesia - terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta. Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi
permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana 'mendinginkan' bumi :

1. Matikan listrik.
(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).
3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magicjar, dll).
6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi po lusi udara).
10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi